2. Idad (Persiapan)

Metode Tahfidz Ini



Metode tahfid ini diambil dari berbagai buku dan guru tahfidz, sebelum memulainya saya ingin ucapkan rasa terima kasih dan Syukur kepada guru tafidz saya Muhamad Deden Almuji beliau yang pertama kali mengajarkan kami para santri mengenai Metode hafalan Al Qurán , Mengenai seberapa efektif metode yang saya gunakan, sejauh ini saya alami dengan menggunakan metode ini kita mampu menghafal satu juz dalam waktu tenggang satu hari atau sekitar 15 sampai 20 jam per juznya. Metode ini termasuk paling cepat diantara metode menghafal yang lain, saya kembangkan metode ini dari buku karangan Ir.Amjad Qasim “hafal Al-Qurán dalam Sebulan”  berikut ini adalah susunan teknis persiapan tahfidnya :


Iddad.

1.     Bekal pertama untuk menghalkan Al Qurán adalah Niat yang Ikhlas dan Ketaqwaan

Idad Atau persiapan sebelum menghafal Al Qurán yang paling awal adalah menyiapkan satu tujuan dalam menghafal Al Qurán yaitu untuk Menjaga Hukum-hukum dalam Al Qurán, untuk mencari keridhoan Alloh, mengajarkannya kepada sesama demi dipahaminya perintah-perintah Alloh dan ditegakannya suatu legalitas penegakan Syariat, demi ibadah Lillahitaála dan menjauhi segala betuk Thagut, Alloh taála berfirman:

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ فَمِنْهُمْ مَنْ هَدَى اللَّهُ وَمِنْهُمْ مَنْ حَقَّتْ عَلَيْهِ الضَّلالَةُ فَسِيرُوا فِي الأرْضِ فَانْظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُكَذِّبِينَ (٣٦)
36. dan sungguhnya Kami telah mengutus Rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): "hambakanlah diri pada Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu", Maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah kamu dimuka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (Risalah).
(QS An nahl[16:36])
Menghafal Al Qurán hukumnya adalah mandhub, dan secara sunahnya tidak boleh ada niatan menghafal Al Qurán demi mencari ketenaran pribadi, bukan karena ingin disebut hafidz, menjadi juara Musabaqoh Al Qurán , menaikan honor daí karena sudah ada gelar Al ustad, Al hafidz, Al kirom, Al karim dan lain lain, serta saya juga berharap semoga tidak ada orang dengki yang mengunakan metode ini untuk dapat memecah belah umat setelah ia mengetahu rahasia hukum Alloh kemudian memalingkan orang-orang dari jalan Alloh yang sesungguhnya.

Bagi yang sekarang sedang atau belum menghafal Al Qurán namun dibalik itu masih ada niat selain ingin menjaganya firman Alloh didalamnya segeralah perbaiki niat, orang-orang mungkin punya awal dan sumber yang berbeda dan salah arah awal dan tujuan akhirnya namun jangan sampai kesalahan itu diteruskan, Niat awal saya menghafal Al Qurán memang sekedar agar orang lain tidak mengatahui bahwa saya sebenarnya seorang yang tidak lancar membaca Al Qurán namun pada pejalanannya seiringan dengan semakin dipahaminya tafsiran dari sekian ayat yang saya baca, saya mulai menata ulang niatan ini, bahwa menghafal firman Alloh adalah untuk menjaganya, Untuk memudahkan dakwah, agar semua orang dapat mendengar seruan Alloh dan Rasulnya agar manusia taat pada hukum yang seharusnya ditaati, yaitu hukum Alloh, Syariat islam, Sunnah Nabi-nabi Alaihimuwasalam dan firman Alloh Taála. Karena sungguh jika bukan karena demi mencari keridhoan Alloh, maka seluruh niatan hanyalah rencana dan investasi merugikan, tidak diberkahi dan amat sangat sedikit ganjaran yang akan didapatkan setelahnya  dan mungkin bisa sampai mendatangkan laknat ingatlah peringatan beliau ShallallohuÁlihi wasalam:

Sesungguhnya yang paling aku khawatirkan atas kamu adalah seseorang yang telah membaca (menghafal) al-Qur’ân, sehingga ketika telah tampak kebagusannya terhadap al-Qur’ân dan dia menjadi pembela Islam, dia terlepas dari al-Qur’ân, membuangnya di belakang punggungnya, dan menyerang tetangganya dengan pedang dan menuduhnya musyrik”. Aku (Hudzaifah) bertanya, “Wahai nabi Allâh, siapakah yang lebih pantas disebut musyrik, penuduh atau yang dituduh?”. Beliau menjawab, “Penuduhnya”.
(HR. Bukhâri )
Orang yang menghafalkan Al Qurán bukan demi menjaga tegaknya Firman Alloh tidak pantas disebut Muslim, bahkan pastilah ia termasuk orang munafik, ia bacakan keindahan dilisannya padahal Alloh maha tahu saat hatinya berpaling dari ketaatan dan kepatuhan yang seharusnya diberikan pada Alloh dan Rasulnya, hadist diatas jelas diisyaratkan kepada pribadi Hafidz yang jelas bukan calon penghuni surga melaikan penghuni neraka, ia telah memalingkan citra penghafal Al Qurán .

Jangan pernah jadi seperti mereka yang mengaku menghafal perintah dan larangan Alloh dalam Al-Qurán tapi tidak pernah baraa daripada tahgut dan wala pada Alloh, ia tidak menyeru manusia untuk menegakan hukum Alloh, tidak sedih jika mendengar Seorang Mujahid terbunuh atau terfitnah, berdiri di podium thagut kemudian menjadi biduan di majelis yang disana diisi oleh orang-orang yang ingin memalingkan Al Qurán dari makna yang sebenarnya. Supaya mereka tidak menyadari adanya Musuh Alloh, tidak tahu bahayanya talbisuíblish, dan tidak mengenal apa dan siapa itu Thagut, dan tak pernah mau mengenalkan bahwa islam bukanlah agama yang sekedar ritual, Dien adalah undang-undang bukan agama, dan setiap hafidz menyembunyikan kebenaran dan hakikat islam itu sendiri sungguh adalah orang munafik seandainya ia tidak pernah baratubat:

إِنَّ الَّذِينَ يَكْتُمُونَ مَا أَنْزَلْنَا مِنَ الْبَيِّنَاتِ وَالْهُدَى مِنْ بَعْدِ مَا بَيَّنَّاهُ لِلنَّاسِ فِي الْكِتَابِ أُولَئِكَ يَلْعَنُهُمُ اللَّهُ وَيَلْعَنُهُمُ اللاعِنُونَ (١٥٩)إِلا الَّذِينَ تَابُوا وَأَصْلَحُوا وَبَيَّنُوا فَأُولَئِكَ أَتُوبُ عَلَيْهِمْ وَأَنَا التَّوَّابُ الرَّحِيمُ
159. Sesungguhnya orang-orang yang Menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan (yang jelas) dan petunjuk, setelah Kami menerangkannya kepada manusia dalam Al Kitab, mereka itu dila'nati Allah dan dila'nati (pula) oleh semua (mahluk) yang dapat mela'nati.[1]
160. kecuali mereka yang telah taubat dan Mengadakan perbaikan dan menerangkan (apa yang sebelumnya disembunyikan), Maka terhadap mereka Itulah aku menerima taubatnya dan Akulah yang Maha menerima taubat lagi Maha Penyayang.
(Qs. Al Baqarah [2:159-160])

          Awalilah dan kembalikanlah niat kita saat menghafal Al Qurán untuk satu tujuan yaitu mencari keridhoAlloh, buktikan niat kita saat kita menghafalkan perintahnya kita juga melaksanakannya atau mungkin berusaha semampuhnya untuk itu atau minimal saat belum bisa melaksanakan perintah Alloh maka jauhilah larangnya, mulai dari yang kita bisa kemudian teruslah berdoá dan beristigfar, sungguh Alloh punya jalannya sendiri dan jalannya amatlah berkesan dengan semua cobaan dan keajaiban dijalannya. Ingat modal dan persiapan Awal sebagai seorang penghafal Al Qurán adalah niat yang tulus demi mencari keridhoan Alloh yang biasa kita sebut ”Keikhlasan” kemudian semoga dari sana kita menjadi orang yang bertakwa yang menjalankan seluruh Perintah Alloh dan menjauhi larangannya.

2.        Bekal kedua : Menyiapkan mental dan menimbang diri.

Kemampuan membaca Al Qurán yang baik memanglah salah satu penunjang dasar dari kemampuan menghafal Al Qurán namun itu bukanlah segalanya dalam proses menghafal Al Qurán, jadi sekiranya kita masih sering mendapati bacaan kita dipenuhi kesalahan pengucapan satu, dua huruf atau kesalahan dalam masalah tajwid kita masih bisa meneruskan hafalan kita namun perlu diingat bagi yang belum lancar dalam membaca bahwa ia harus siap banyak mengulang bacaan yang kelak akan dihafalnya.

Kesalahan membaca saat menghafal akan mengakibatkan yang dihafalnyapun akan salah, tapi jika memang kita sudah punya modal awal sebagai hafidz yaitu niat yang lurus ingin menjaga hukum Alloh dan demi tegaknya syariat Alloh, maka dengan ijin Alloh ini bukanlah kendala yang besar, Alloh berkuasa merubah keadaan jika kita sungguh sungguh ingin merubahnya, banyak didapati para penghafal yang belum lancar membaca Al Qurán pada kelajutannya menjadi lancar dan baik qiroatnya karena seringan dengan ia membaca dan menghafal ia melatih kemampuan membacanya tanpa ia sadari.

Jika kita belum lancar dan belum baik bacaaan sekali lagi siap-siaplah mengulang dan siap-siaplah menerima kesulitan selama menghafal, dan kesulitan yang kita terima selama menghafal akan terus bertambah dan bertambah kecuali saat kita ikhlas menerima keadaan dan tetap melanjutkan hafalan sambil terus berdoa semoga dimudahkan dalam menjaga firman Alloh.

Jika merasa diri sudah tua dan sudah sulit menghafal Al Qurán, hilangkan pikiran negatif itu karena sebenarnya semua orang bisa menghafal Al Qurán hanya memang bagi mereka yang usianya masih mudah belia umumnya lebih mudah mengahafal Al Qurán, sugesti kita dalam menghafal menetukan sukar dan mudahnya kita dalam menghafal kalam Alloh. dan dalam eksekusinyapun sebenarnya banyak anak muda yang dikalahkan oleh orang tua dalam menghafal karena anak-anak mudah itu kurang motivasi dalam menghafal al Qurán sehingga dikalahkan oleh mereka yang sudah tua namun motivasinya dalam menghafal Al Qurán jauh lebih baik dari para pemuda malas.

Jika kita termasuk pribadi yang mudah menyerah, ketahuilah bahwa sebenarnya tidak ada orang mudah menyerah, karena hakikat manusia adalah mahluk yang optimis, ketika Alloh menawarkan Al Qurán pada seluruh mahluk baik itu gunung, langit dan lainnya semua menolak karena takut jika tidak mampu menjalakan perintah Alloh ia akan masuk neraka dan adzab Alloh, hanya Manusialah yang optimis, dia tidak terlalu melihat sisi negatif dan resiko neraka ia justru malah percaya diri dapat menjalankan firman Alloh dan masuk ke dalam Surganya Alloh, manusia adalah mahluk yang penuh dengan optimisme, ketika optimisme itu hilang sebenarnya yang hilang adalah iman, ia lupa akan keyakinanya bahwa Alloh adalah Ar Rahman dan lupa bahwa dirinya tercipta dengan sebaik-baiknya bentuk dan sebaik-baiknya potensi.

إِنَّا عَرَضْنَا الأمَانَةَ عَلَى السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ وَالْجِبَالِ فَأَبَيْنَ أَنْ يَحْمِلْنَهَا وَأَشْفَقْنَ مِنْهَا وَحَمَلَهَا الإنْسَانُ إِنَّهُ كَانَ ظَلُومًا جَهُولا (٧٢)لِيُعَذِّبَ اللَّهُ الْمُنَافِقِينَ وَالْمُنَافِقَاتِ وَالْمُشْرِكِينَ وَالْمُشْرِكَاتِ وَيَتُوبَ اللَّهُ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا (٧٣)
72. Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat (DIen) kepada langit, bumi dan gunung-gunung, Maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu Amat zalim dan Amat bodoh,
73. sehingga Allah mengazab orang-orang munafik laki-laki dan perempuan dan orang-orang musyrikin laki-laki dan perempuan; dan sehingga Allah menerima taubat orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan. dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
 (Qs. Al ahzab [33:72])

Begitulah Manusia dihadapan Alloh, optimis walau dia mungkin dianggap salah dan jahil dalam menghitung kemampuan diri, Tapi Alloh melihat kemampuan berharap dari manusia yang sangat indah hingga akhirnya ia dibiarkan manusia memegang amanat yang besar, dan dalam perjalananya Alloh memudahkan manusia, ia mengampuninya, dan tidak menghukum satupun dari hambanya kecuali bagi mereka yang melampaui batas dalam kesombongannya.

 Jangan kehilangan optimisme karena kelak bagi mereka yang menghendaki kebaikan Alloh akan memudahnya entah sebesar apapun keinginan yang kita kejar, sesulit apapun proses menghafal pada akhirnya ia hanyalah proses yang apabila seseorang sudah terbiasa dengan proses tersebut perlahan ia akan memudah dan semakin mudah, semua berawal dari keyakinan diri pada janji Alloh, seburuk dan sebaik apapun kedepannya kita menimbang dan menyiapkan diri, keyakinan kitalah yang pada akhirnya dapat megubah yang sulit menjadi mudah.

3.        Bekal ketiga Menentukan Mushaf.

Menghafal mushaf Al Qurán jelas butuh Mushaf Al Qurán untuk media menghafal, tidak harus punya jika bisa meminjam, tapi jika bisa beli atau memiliki kenapa harus meminjam? Ada beberapa kriteria mushaf yang baik hingga paling baik dalam menghafal Al Qurán, dan standar baik yang paling dasar ada tidak mushaf yang didalamnya jelas tidak ada kesalahan dalam penulisannya agar kedepannya kita tidak sukar dan salah hafalan karenanya. Jika sudah ada yang seperti itu maka sudah cukup tapi apabila mushaf kita sudah memenuhi kriteria seperti ini maka akan lebih baik:

A. Mushaf Pojok.
Mushaf pojok, adalah mushaf yang pada setiap awalnya diawali dengan ayat dan diakhiri dengan ayat, tidak terputus ayatnya dari satu halaman ke halaman yang lain, contohnya jika pada ayat terakhir mushaf adalah :
إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ (٥)
Maka pada ayat tersebut benar-benar berakhir  dengan satu ayat penuh dan pada halaman selanjutnya haruslah juga diwala dengan ayat baru yang terbebas dari ayat sebelumnya misalnya:
 اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ (٦)صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلا الضَّالِّينَ (٧)
Tidak disebut Mushaf pojok jika ayat pada setiap pojok halaman tidak berakhir dan malah menyambung kehalaman selanjutnya seperti:

إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا سَوَاءٌ عَلَيْهِمْ (pojok kiri bawah /akhir halaman)–
ءَأَنْذَرْتَهُمْ أَمْ لَمْ تُنْذِرْهُمْ لا يُؤْمِنُونَ (٦)(pojok kanan atas/awal halaman)


Tidak disebut mushaf pojok karena ayat malah bersambung pada halaman setelah dan bukan diakhir pada akhir kalimat

B. Ada Terjemahannya.

Meskipun saya akui mushaf terjemahan yang ditashih oleh Departemen Agama RI memiliki terjemahan yang buruk dan menyimpang terkhusus pada setiap kata Rabb (ِرَبِّ), Illlah (إِلَهِ), dan Malik (مَلِكِ), karena terlalu sering dapati telah diartikan sebagai Tuhan sehingga kaburlah pemahaman mengenai Rububbiah, dan Uluhiah, serta Mulkiahnya maka saya akui terjemahan Al Qurán di Indenesia sampai hari ini (1435) banyak yang menyimpang, untuk sementara ini gunakan saja tapi jangan pernah menganggap (ِرَبِّ) (إِلَهِ) itu tuhan, karena maknaya jelas akan menjadi sempit jika diterjemahkan sebagai Tuhan serta dapat merusak kandunga Tauhid yang seharusnya tidak boleh dirusak atau dirubah, diambah dan dikurangi, sejauh ini saya sedang mengedit terjemahan yang lebih baik dan semoga dapat selasai tahun ini. Amin.

Jika ada Gunakanlah mushaf dengan terjemahan perkata karena itu cukup membantu, namun jika belum ada sebanarnya dengan mushaf terjemahan biasa dan Mushaf Qurán pojok kita sudah memenuhi setandar yang lumayan baik dan sudah bisa memulai menghafal.

Ketika memulai hafalan semestinya seorang penghaf Al Qurán tidak mengonta-ganti mushafnya agar ia mengetahui pasti peletakan ayat pada setiap halamannya, ketika seseorang terbiasa menggonta-ganti mushaf maka ia akan kesulitan mengetahui peletakan ayat pada setiap mushaf, karena pada beberapa mushaf peletakan ayat sering kali beberbeda meskipun isinya sama.



Manfaat lain ketika tidak gonta ganti mushaf adalah membuat kita tidak perlu menyesuaikan diri dengan mushaf yang baru, maka dari itu jika ingin menghafal Al Qur’an gunakanlah Mushaf yang terbaik, karena sebaiknya seorang hafidz tidak mengganti mushafnya seumur ia menjaga Al Qurán . Jika risih dengan Mushaf terjemahan yang ditashih Departemen Agama RI yang sering menyelewengkan Tauhid, kita bisa mencoret setiap kata Tuhan yang digunakan untuk menyelewengkan kata Rabb dan Illah, atau kata agama yang digunakan utuk menyelewengkan kata Dien atau terjemahan yang menyimpang lainnya. Semoga membantu, amin.

4.        Waktu dan Tempat

Mengenai waktu dan tempat ini dapat kita sesuaikan sendiri, namun idealnya dalam menghafal Al Qurán adalah Setelah Shalat Subuh atau Ashar menjelang magribh, sedang waktu mengulang hafalan bisa di mulai ketika waktu sebelum tidur atau diwaktu tahajud, magrib atau waktu-waktu sebelum melaksanakan Shalat. Namun sebenarnya tidak keharusan waktu tertentu dalam menghafal Al Qurán. Ia bisa dihafal kapan saja dan dimana saja, mengenai waktu ideal itu sendiri itu hanyalah penilaian relatif dan setiap orang punya waktu menghafal dan mengulang hafalanya sendiri-sendir, serta tidak ada terburuknya maka dari itu baik pagi siang malam Al Qur’an tetap baik untuk dihafalkan.

Mengenai durasi atau seberapa lama kita menghafal itu tergantung pada target yang kita tetapkan sendiri jika target minimal kita adalah satu juz dalam satu bulan maka waktu yang kita butuhkan adalah sekitar satu jam sehari. Tapi jika target kita ialah satu mingu satu juz maka waktu yang dibutuhkan dalam menghafal adalah sekitar tiga sampai empat jam sehari, atau mungkin jika target yang diambil adalah satu juz satu hari maka siapkan saja lima belas sampai dua puluh jam sehari untuk pemula, dan biasanya target satu hari satu juz umumnya berhasil jika sang penghafal sedang ada di hari kosong atau libur panjang di bulan ramadhan.

Sebaiknya jangan mengejar hafalan satu juz satu hari jika sedang ada kesibukan yang menumpuk, jika tidak sedang dalam waktu kosong kemudian memaksakan diri untuk mengambil target satu juz satu hari umumnya sang penghafal malah jadi cepat bosan dan mungkin hanya bertahan tiga hari dengan tiga juz lalu setelahnya bolos dalam menghafal. Lakukan ini jika yakin bisa tapi jangan pernah coba-coba apalagi jika tidak sedang libur karena dapat menganggu kativitas. Dan saya sendiripun mencoba satu hari satu juz pada waktu Ramadhan dan waktu kosong.

Dalam menghafal satu juz sebenarnya waktu yang di butuhkan hanya sekitar 12 jam dan paling lama sampai 20 jam, karena untuk satu juznya umumnya terdiri dari 10 sampai 12 lembar, untuk mengfal setiap halamanya dengan metode di buku ini umumnya di butuhkan waktu 1 sampai dengan 2 jam berikut kalkulasinya:

a.        Pemula (belum lancar atau tidak bisa baca Al Qurán ) : 3 jam perlembar atau 1,5 jam perhalaman.
b.        Mahir (mampu membaca Al Qurán )  : 1 sampai 2 jam perlembar atau 30-60 menit perhalaman.
c.        Sangat mahir (masuk katagori tartil) : 1 jam perlembar atau 30 menit perhalaman.

Meskipun waktunya dapat kita tentukan sesuia dengan keinginan pastikan kita punya waktu yang tetap dan sesuai dengan waktu yang kita telah jadwalkan, jadi pastikanlah untuk menenetukan jadwal tafidz yang memungkinkan kita  untuk tidak menyelahi jadwal, banyak menunda atau berbenturan dengan acara rutin seperti berangkat ke kantor, atau ketempat kerja atau rutinitas lainnya atau waktu santai dengan orang terdekat.

Mengenai tempat menghafal itu sesuai dengan selera, jika kita suka dengan tampat yang sepi silahkan cari tempat yang sepi, jika suka dengan tempat ramai cari tempat yang ramai, jika suka dengan tempat yang terbuka atau tertutup maka carilah tempat itu. Menghafal Al Qurán bisa kapan saja dan dimana saja tapi pastikanlah tempatnya bersih dan jauh dari najis atau tempat dimana disana banyak maksiat atau tempat yang di benci malaikat seperti yang di penuhi patung, lukisan dan bau tidak sedap jika memungkinkan usahakan menghafalah diruangan yang harum lagi nyaman.

Jika kita punya kesempatan maka Masjidlah atau Mushala dan Ruang keluarga, atau tamu adalah yang mungkin terbaik, saya dapat bilang ini adalah tempat terbaik karena malaikat biasa mengunjungi tempat-tempat itu, terutama jika tempatnya bersih dan harum lagi banyak diucapkan dzikulloh, tapi itu kembali pada pribadi seseorang itu sendiri, karena ada juga yang suka mengfal dipinggiran sawah, disamping rel kereta api, dan bahkan ada yang sengaja menaiki bus atau kreta dan kendaraan umum selama menghafal, alasannya bervariasi, ada yang karena ia suka tempat sepi, suka menghafal sambil jalan-jalan dan merenungi dosa-dosa ibu kota dan lain-lain.

Apapun tempatnya asalkan memungkinkan kita untuk khusyuk dan mampu mendalami Al Qurán maka datangilah tempat itu, tapi hati-hati dengan talbis syaitan, terkadang ia membisikan yang aneh-aneh selama menghafal seperti untuk mencari tempat yang sepi, kemudian setelah didapatkan tepat yang sepi  ia bisikan untuk cari tempat yang  ramai kemudian ia bisikan tempat ini dan itu dan pada akhirnya kita tidak menghafal sama sekali melainkan hanya bertamasya dari satu tempat yang disukai hati ketempat yang lain yang sebenarnya tidak pernah membawa kita ke tempat menghafal Al Qurán. Tegaslah dalam menentukan tempat-tempat menghafalkan Al Qurán, karena sebanarnya tahfidz  dapat dilakukan kapanpun dan dimanapun jika kita memang benar-benar niat dalam menjaganya.

5.        Usahakanlah bersama-sama.

Baiknya hidup adalah bersama-sama, begitu juga dalam menghafalkan Al Qurán lebih menyenangkan jika kita punya orang terdekat selama menghafalkan Al Qurán bersama seperti sahabat, istri, anak atau bersama orang tua walaupun mungkin saat menghafal kita punya hafalan yang berbeda-beda serta waktu dan tempat yang berbeda, jika kita tidak terbiasa atau menyukai kesendirian umumnya kita akan lebih bersemangat menghafal bersama-sama ketimbang menghafalkan Al Qurán seorang diri.

Dalam menghafalkan Al Qurán baiknya kita mengujikan hafalan kita dengan membacakannya pada seorang teman agar kita tahu sebaik apa hafalan yang kita miliki, namun jika tidak ada maka tidak masalah yang penting adalah banyaknya mengulang hafalan, supaya apa yang kita hafalkan menjadi semakin terjaga.

  Demikianlah persiapan dalam menghafal, Pertama pastikan niat yang benar dan ikhlas, kedua ukurlah kemampuan diri dan persiapkanlah mental anda, ketiga siapkankan mushaf yang baik untuk menghafal karena baiknya mushaf yang digunakan adalah satu untuk seumur hidup, keempat tentukan waktu dan tempat yang tepat, dan kelima usahakan menghafal bersama orang terdekat anda.

kklik untuk kelanjutanya :) :



Komentar

Postingan Populer