1. Dasar Pertama Metode ini


Berawal Dari Sebuah Niat


Segala puji hanya bagi Allah, Padanya kami memuji, dan padanya kami berlindung , serta padanya kami memohon ampun, dan kami berlindung dari setiap kekotoran diri kami dan dari setiap keburukan amal kami. Barang siapa yang diberikan hidayah maka tak ada satupun mampu menyesatkanya dan barang siapa disesatkan olehnya tiada satupun petunjuk baginya. Sesungguhnya sebaik-baiknya perkata`an adalah kitab Allah dan sebaik-baiknya petunjuk adalah petunjuk Rassululloh sholalalohu alaihi wassalam, seburuk-buruknya perkata`an adalah yang mengada-ngada (dalam dien) dan setiap yang mengada-ngada (dalam dien) adalah bid`ah serta setiap bid`ah adalah sesat .

Sudah sering mendengar kalimat “kami hidup untuk mencari keridhoan Alloh? jika sudah dalam mengawali tulisan ini saya coba untuk menyemarakan lagi kalimat ini, dan berharap dengan semakin terniangnyanya kalimat ini, maka dari sana dapat terukir kesungguhan dihati, bahwasanya Sungguh kita didunia ini benar-benar mencari ridho Alloh.”Amin.

Setiap ibadah memiliki dua syarat untuk dapat diterima sebagai ibadah yang Alloh ridhoi, dan dua syarat utama itu pertama ialah Ikhlas serta kedua ialah tidak menyelisihi tuntunan Al Qurán dan As Sunnah, ketika salah satu ibadah sebut saja Shalat subuh kemudian dilaksanakan dengan penuh ikhlas namun diringi dengan pelaksanaán 8 rakaat maka ibadah shalat subuh itu tertolak karena menyelisihi sunnah, Meskipun pelakunya mengaku sangat ikhlas dalam melaksankan shalat subuh tersebut amalan ibadah itu tetap tertolak, dan begitupula  sama halnya akan tertolak seorang yang melaksanakan shalat subuh 2 rakaat sesuai dengan tuntunan Al Qurán dan As Sunnah namun tidak diringi dengan keikhlasan, Ibadahnya juga akan tertolak karena ia mengerjakan tanpa ada keikhlaslasan atau terpaksa seperti halnya shalat yang dilaksanakan orang-orang munafik, karena sekali lagi syarat diterima suatu ibadah adalah Ikhlas dan Tidak menyelisihi Sunnah.

Menghafal Al Qurán adalah suatu ibadah Mandhub, ketika seseorang menghafal Al Qurán ia akan mendapat ganjaran disisi Alloh dan kecintaan disisi Rasululloh Shalallohuálaihi wasalam. Diantara Tujuan Penghafalan Al Qurán dimaksudkan untuk penjagaan terhadap firman Alloh taála agar tetap terjaga dan jauh dari interfrensi perkataan manusia, maka dari itu ketika Nabi Muhamad Shalallohu’Alaihi wasalam menerima wahyu para sahabat segera di perintahkan untuk menghafal firman tersebut atau segera menuliskannya firman Alloh yang baru saja turun agar tetap terjaga hingga hari akhir.

Al Qurán amatlah sangat istimewa karena ia adalah satu-satunya kitab suci yang Alloh jaga keotentikanya dan Alloh mudahkan dalam penjagaanya hingga menjelang hari kiamat. Kalam Alloh yang satu ini Alloh susun sedemikian rupa hingga dapat dihafalkan seluruh isinya oleh setiap hambanya yang mau menghafalkanya, entah ia buta, tidak bisa membaca, tidak mengerti bahasa Arab, Muslim, Shalih, Kaafir, Munafik, Dzalim, ataupun orang Musyrik sekalipun. Karena Al Qurán Alloh biarkan melekat pada lisan siapapun yang Alloh kehendaki, agar siapa saja dapat mendengar firmannya, dan sebagai hujah dihari pembalasan nanti siapa yang mengikuti petunjuk Alloh setelah datangnya dan siapa saja yang justru malah ingkar padalah ayat-ayat Alloh yang pernah ia dengar dalam hidupnya, Alloh taala berfirman:

وَسِيقَ الَّذِينَ كَفَرُوا إِلَى جَهَنَّمَ زُمَرًا حَتَّى إِذَا جَاءُوهَا فُتِحَتْ أَبْوَابُهَا وَقَالَ لَهُمْ خَزَنَتُهَا أَلَمْ يَأْتِكُمْ رُسُلٌ مِنْكُمْ يَتْلُونَ عَلَيْكُمْ آيَاتِ رَبِّكُمْ وَيُنْذِرُونَكُمْ لِقَاءَ يَوْمِكُمْ هَذَا قَالُوا بَلَى وَلَكِنْ حَقَّتْ كَلِمَةُ الْعَذَابِ عَلَى الْكَافِرِينَ (٧١)

Orang-orang ingkar dibawa ke neraka Jahanam berombong-rombongan. Sehingga apabila mereka sampai ke neraka itu dibukakanlah pintu-pintunya dan berkatalah kepada mereka penjaga-penjaganya: “Apakah belum pernah datang kepadamu utusan-utusan di antaramu yang membacakan kepadamu ayat-ayat Pengaturmu (Alloh) dan memperingatkan kepadamu akan pertemuan dengan hari ini?” Mereka menjawab: “Benar (telah datang)”. Tetapi telah pasti berlaku ketetapan azab terhadap orang-orang yang ingkar.
(QS. Az Zumar [39:71])

                Ayat-ayat Alloh begitu mudahnya Alloh tebarkan, hingga bisa dihafal dan didengar oleh siapapun, ia adalah salah satu dari dua tanda keberadaan Alloh, yaitu ayat Qauliah setelah ayat Kauniahnya yang juga ia tebarkan diseluruh Alam semesta, agar semua benar-benar merasakan eksistensi Alloh meskipun tak pernah berjumpa dengannya secara dzahir, Ia perlihatkan keagungan Penciptaannya dan Kemurahannya pada setiap doa hambanya agar semua menyadari dan merasakan keberadaan Alloh, serta bersama firman Alloh yang satu ini seluruh hambanya diseru untuk tunduk patuh pada petunjuk Alloh yang akan mengerluarkanya dari kegelapan menuju cahaya. Alloh Taálah berfirman:

اللَّهُ وَلِيُّ الَّذِينَ آمَنُوا يُخْرِجُهُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ وَالَّذِينَ كَفَرُوا أَوْلِيَاؤُهُمُ الطَّاغُوتُ يُخْرِجُونَهُمْ مِنَ النُّورِ إِلَى الظُّلُمَاتِ أُولَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ
Allah pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman). dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya ialah Thagut, yang mengeluarkan mereka dari cahaya kepada kegelapan (kekafiran). Mereka itu adalah penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.
(Qs. Al Baqarah [2:227])

Al-Qurán adalah sebaik-baiknya petunjuk menuju cahaya, dan Al Qurán benar-benar menakjubkan, ia adalah bukti keagungan Alloh, setiap orang bisa menghafalnya, ia benar-benar terjaga dan selalu Alloh jaga, agar kelak semua orang bisa tetap membacanya, bisa tetap mencarinya dan menuju keridhoan Alloh bersamanya, sungguh benar janji Alloh dalam firmannya:

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ
Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan Sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.
(Qs. Al Hijr [15:9])

وَلَقَدْ يَسَّرْنَا الْقُرْآنَ لِلذِّكْرِ فَهَلْ مِنْ مُدَّكِرٍ
Dan Sesungguhnya Telah kami mudahkan Al-Quran untuk dipelajari, Maka Adakah orang yang mengambil pelajaran? (Qs. Al Qamar, [54 :17])
Dan Sesungguhnya Telah kami mudahkan Al Quran untuk dipelajari, Maka Adakah orang yang mengambil pelajaran? (Qs. Al Qamar, [54 :22])
Dan Sesungguhnya Telah kami mudahkan Al Quran untuk dipelajari, Maka Adakah orang yang mengambil pelajaran? (Qs. Al Qamar, [54 :32])

kata lidzikri (لذِّكْر) dalam pada Surat Al Qamar, mengandung makna, diingat, dikenang, dipelajari, direnungkan sebagai mana kita biasa menyebut istilah untuk mengingat Alloh dengan kata dzikir atau dzikurulloh, yang juga dapat bermaksud Mengingat Alloh, Merenungi keanguangan, kesucian, dan kemulaian, keesaan Alloh, dari sana kita bisa mengambil pemahaman bahwa Al Qurán memang mudah untuk dihafalkan, dan dalam realitanyapun sejak dahulu hingga sekarang Al Qurán memang selalu mudah untuk dihafalkan, hanya saja maukan kita percaya dan menghafalnya?

وَلَقَدْ يَسَّرْنَا الْقُرْآنَ لِلذِّكْرِ فَهَلْ مِنْ مُدَّكِرٍ
Dan Sesungguhnya Telah kami mudahkan Al Quran untuk diingat, Maka Adakah orang yang mau mengingatnya? (Qs. Al Qamar, [54 :40])

Dewasa ini Para penghafal Al Qurán sudah semakin banyak dan metode mengahafal Al Qurán semakin beragam dan di indonesia sendiri sekolah-sekolah khusus bagi para pengahafal Al Qurán semakin menjamur diberbagai penjuru tanah air, namun sedikit disayangkan tidak semua lembaga penghafalan Al Qurán menghasilkan para Hafidz dan Hafidzoh yang memang benar-benar menjaga Al Qurán sebagai mana mestinya, kebanyakannya menghafal Al Qurán hanya sebatas pada lafadz arabnya tanpa tahu apa makna dari hafalan yang mereka jaga, mereka ibaratnya seperti para penjaga peta harta karun yang hafal lokasi harta karun yang tak ada habisnya namun mereka enggan mengambil harta tersebut karena tidak tahu apa makna dari simbol-simbol hijaiyah yang mereka hafalkan, mereka mungkin membaca dan menghafalnya, mereka mungkin tahu bagaimana persisnya bentuk dan posisi simbol-simbol huruf hijiah dalam naskah Al Qurán , tapi mereka tidak tahu pasti apa yang mereka benar-benar hafalkan selama ini.

Fenomena ini sangat menarik dan sangat disayangkan, andai mereka memahami betul apa yang dihafalkan pastilah akan sangat indah hidup para penghal Al Qurán  tersebut dan akan sangat diberkahilah orang-orang yang hidup disekitarnya, karena mereka besama dengan para penjaga Undang-undang Alloh, dan hidup bersama penjaga firman Alloh adalah sebaik-baiknya hidup, karena adakah hidup yang lebih diberkahi selain hidup bersama seorang yang menjaga Syariat, menjaga jalan menuju kebahagian dunia dan akhirat?


  Fenomena ini seringkali terjadi karena :
1.     Para penghafal Al Qurán  tersebut tidak merenungi apa yang akan mereka hafalkan sehingga saat ada satu ayat didepannya ia hanya sebatas membacanya berulang-ulang hingga akhirnya ia hafal Ayat tersebut, kemudian ia merasa puas ayat Alloh yang melekat dilidahnya, namun pada hakikatnya apa yang selama ini ia bacakan hanyalah suara dengan intonasi indah yang tak jelas maknanya, yang hanya nyaman di ucapkan dan memanjakan telinga namun membuat hati hampa karena karena ada yang hilang, dan ia tak memahami apa maksud dari suara indah tersebut.
2.        Para penghafal Al Qurán mengunakan mushaf dengan terjemahan Al Qurán yang menyimpang dari makna sebenaranya hingga akhirnya ia salah memaknai apa yang ia hafalkan, dan kelak yang ia jaga-pun bukanlah sesuatu yang otentik melainkan sesuatu yang sudah dipalsukan, dalam hal ini yang paling bertanggung jawab adalah orang-orang yang memalingkan keotentikan Al Qurán mereka wala pada bathilnya Thagut dan mulai Bara pada Haq Alloh untuk diterima seluruh kebenarannya.
3.        Para penghafal Al Qurán Punya motivasi selain mencari ridho Alloh dalam Hafalanya, mungkin demi menjadi juara lomba baca Al Qurán , Ustad dengan gelar Al hafidz, ingin disebut Alim, Punya motivasi memalingkan kaum Muslimin dari Ajaran Al Qurán yang sebenarnya, dan niat-niat lain yang intinya memanfaatkan Al Qurán untuk penunjang perjuangan selain dijalan Alloh.

Buku ini sendiri saya susun demi meluruskan kembali hakikat Hafidz dan menghafal Al Qurán yang sebenarnya, dengan judul Rumah Mushaf, saya berharap kedepannya akan terbentuk generasi-generasi Hafidz dan Hafidzoh yang memang menghafal Al Qurán demi menjaga apa yang ada didalamnya dan bukan hanya menghafal simbol-simbol hijaiah dalam Al Qurán sehingga menghasilkan generasi penghafal yang prematur atau belum sempurna hafalannya namun sudah mengaku menguasai Al Qurán kemudian sadar atau tanpa disadari ia sudah memalingkan dirinya dan orang lain dari kebenaran yang semestinya.

 Seorang hafidz dan hafidzoh bukanlah sekedar penghafal lafadz Al Qurán melainkan dialah seorang Penjaga Hukum Alloh, ia tidak akan memanfaatkan Al Qurán untuk mendongkarak citra dalam diri atau lembaga dan orang sekitar. Ia menghafal Al Qurán dan menggunakan Hafalannya untuk menjaga Al Qurán agar dirinya dan orang-orang sekitarnya menegakan Syariat yang ada didalamnya, atau minimal menyebarkan Syiar-syiar Alloh yang bertebaran disetiap ayatnya, seorang Hafidz bukanlah Tukang pamer atau Para Pemilik pameran Al Qurán , ia tidak menjual diri untuk thagut, melainkan dialah yang menjual dirinya pada Alloh demi menegakan dan memperjuangkan hukum-hukum Alloh.

إِنَّ اللَّهَ اشْتَرَى مِنَ الْمُؤْمِنِينَ أَنْفُسَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ بِأَنَّ لَهُمُ الْجَنَّةَ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَيَقْتُلُونَ وَيُقْتَلُونَ وَعْدًا عَلَيْهِ حَقًّا فِي التَّوْرَاةِ وَالإنْجِيلِ وَالْقُرْآنِ وَمَنْ أَوْفَى بِعَهْدِهِ مِنَ اللَّهِ فَاسْتَبْشِرُوا بِبَيْعِكُمُ الَّذِي بَايَعْتُمْ بِهِ وَذَلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ (١١١)التَّائِبُونَ الْعَابِدُونَ الْحَامِدُونَ السَّائِحُونَ الرَّاكِعُونَ السَّاجِدُونَ الآمِرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَالنَّاهُونَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَالْحَافِظُونَ لِحُدُودِ اللَّهِ وَبَشِّرِ الْمُؤْمِنِينَ (١١٢)
111. Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh (dijalan Alloh). (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Quran. dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan Itulah kemenangan yang besar.
112. mereka itu adalah orang-orang yang bertaubat, yang beribadat, yang memuji, yang mengebara (untuk mencari ilmu) , yang ruku', yang sujud, yang menyuruh berbuat ma'ruf dan mencegah berbuat Munkar dan yang Menjaga hukum-hukum Allah. dan gembirakanlah orang-orang mukmin itu.
(Qs. Al Baraáh [9:111-112])

Hafidz dan hafidzoh bukanlah para penghafal huruf simbol hijaiah dalam Al Qurán, atau para pengingat susuan Kata-kata dalam Al Qurán, disebut hafidz dalam ayat diatas karena memang dirinya menjaga tegaknya hukum Alloh dan menyeru pada apa-apa yang Alloh perintahkan dalam Al Qurán dan mencegah orang-orang disekitarnya untuk melakukan apa yang Alloh murkai untuk dilakukan, merekalah Aulia Alloh yang bara pada Segala bentuk Thagut dan musuh Alloh yang menghalangi tegaknya hukum Alloh.

Fenomena miris yang terjadi pada para kebanyakan penghafal Al Quran hari telah Rasulullohshalallohu’alaihiwasalam peringatkan dalam sebuah riwayat:

Akan keluar suatu kaum dari umatku, mereka membaca Al Quran, bacaan kamu dibandingkan dengan bacaan mereka tidak ada apa-apanya, demikian pula shalat dan puasa kamu dibandingkan dengan shalat dan puasa mereka tidak ada apa-apanya. Mereka membaca Al quran dan mengiranya sebagai pembela mereka, padahal ia adalah hujjah yang menghancurkan alasan mereka. Shalat mereka tidak sampai ke tenggorokan, mereka lepas dari Islam sebagaimana melesatnya anak panah dari buruannya.” (HR. Abu Dawud)

Sesungguhnya yang paling aku khawatirkan atas kamu adalah seseorang yang telah membaca (menghafal) al-Qur’ân, sehingga ketika telah tampak kebagusannya terhadap al-Qur’ân dan dia menjadi pembela Islam, dia terlepas dari al-Qur’ân, membuangnya di belakang punggungnya, dan menyerang tetangganya dengan pedang dan menuduhnya musyrik”. Aku (Hudzaifah) bertanya, “Wahai nabi Allâh, siapakah yang lebih pantas disebut musyrik, penuduh atau yang dituduh?”. Beliau menjawab, “Penuduhnya”.
 (HR. Bukhâri)

Rasulullah saw. bersabda:
 Sesungguhnya diantara ummatku ada orang-orang yang membaca Al Quran tapi tidak melampaui tenggorokan mereka. Mereka membunuh orang Islam (membiarkan perang, menghalangi jihad) dan membiarkan penyembah berhala (Thagut). Mereka keluar dari Islam secepat anak panah melesat dari busurnya. Sungguh, jika aku mendapati mereka, pasti aku akan bunuh mereka seperti terbunuhnya kaum Aad. (Shahih Muslim No.1762)

Hadis riwayat Ali ra., ia berkata:
Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda: Di akhir zaman akan muncul kaum yang muda usia dan lemah akal (kekanakan). Mereka berbicara dengan pembicaraan yang seolah-olah berasal dari manusia yang terbaik. Mereka membaca Alquran, tetapi tidak melampaui tenggorokan mereka. Mereka keluar dari Dien, secepat anak panah meluncur dari busur. Apabila kalian bertemu dengan mereka, maka bunuhlah mereka, karena membunuh mereka berpahala di sisi Allah pada hari kiamat.
(Shahih Muslim No.1771)

يحسنون القيل ويسيئون الفعل يدعون إلى كتاب الله وليسوا منه في شيء
“Mereka baik dalam berkata tapi jelek dalam berbuat, mengajak untuk mengamalkan kitab Allah padahal mereka tidak menjalankannya sedikitpun.”
(HR. Al-Hakim)

Hari ini mulai banyak bermunculan para penghafal Al Qurán yang dihawatikan Nabi Shalllohuálaihiwasalam, mereka disebut menghafal Al Qurán tetapi membunuh sesama muslim, karena meskipun mereka tahu akan wajibnya menegakan seluruh perintah Alloh mereka malah membiarkan para mujahidin terbunuh, bukannya menghalangi musuh Alloh untuk menghancurkan islam justru dirinya ikut menyebut pejuang Alloh sebagi teroris, atau ekstrimis, bukannya ia menegakan perintah Alloh dalam Al Qurán Justru malah dirinya menghalangi hamba Alloh mengakan syriat Alloh.

Mereka bertengger di televisi, radio, dan mimbar tablig akbar sambil membaca Ayat-ayat Alloh namun disisi lain mereka menghalangi orang-orang untuk mengenal Alloh lebih dekat, Membatasi petunjuk menuju perjuangan hidup dijalan Alloh karena takut pada thagut, dan memalingkan Ayat Alloh dari keotentikanya, mereka seperti pemilik pameran, punya banyak koleksi berharga namun tak mengijinkan orang lain untuk menyentuh koleksinya dan tidak mau memberi tahu dari mana ia mendapatkan koleksi barang-barang indahnya, mereka ingin terlihat indah dengan koleksi keindahannya, mereka tidak sadar semuanya adalah milik Alloh dan layak untuk dibagikan kepada sesama hamba Alloh, serta mereka sedang lupa semua titipan Alloh akan ada pertanggung jawabannya.

 Al-Quran dihafalkan lafadz-lafadznya untuk dijaga keaslianya, agar orang-orang dapat menegakan syariat sesuai dengan apa yang Alloh perintahkan dalam Al Qurán dan As Sunnah, tidaklah semua itu dihafal melainkan demi penjagaan, penyebaran dan penegakan syariat islam berdasarkan hukum yang Alloh rdhoi, Ia dibaca dengan tartil agar para pendengarnya khusyuk menghayati firman Alloh, dan Al-Qurán sebenarnya dilarang untuk dibaca melainkan untuk mencari kebenaran dan menebarkan-kebenaran apalagi untuk menyesatkan, ia adalah pembawa perdamain dan sumber paling mendasar dari seluruh perintah Alloh dan petunjuk utama dalam mencari keridhoan Alloh di dunia demi akhirat.

Saya tergerak untuk mendirikan Rumah Mushaf dan menuliskan buku panduang Rumah mushaf ini, karena melihat fenomena hafidz yang salah oreientasi dalam menghafal, yang terkecoh oleh para penerjemah Al Qurán yang seringkali memalingkan firman-firman Alloh dalam Al Qurán, yang mempersulit penjagaan Al Qurán dan yang menghalangi orang-orang untuk menegakan firman Alloh dalam Al Qurán secara kaffah. Seluruh niat penghafalan Al Qurán adalah demi menjaga Hukum Alloh, bukan untuk pamer atau apapun selain demi penegakan Syariat Alloh tidak ada surga atau janji Alloh pada seorang hafidz yang hanya suka bermain lafadz tanpa menegakanya.

Dalam buku ini saya mencoba menyusun dan menyempurnakan metode menghafal Al Qurán dari berbagai buku dan literatur tahfidzulQurán, semuanya disusun semudah mungkin untuk dapat diaplikaskan oleh semua usia, namun sesuai Qaidah  sempurnanya menghafal Al Qurán sebaiknya dilakukan oleh seorang yang sudah baligh, walau anak-anak mungkin akan lebih mudah menghafalkan ayat-ayat dalam Al Qurán sejatinya mereka hanya menghafal lafadz-lafadnya dan kebanyakatan tidak mengatahui maknanya atau tafsirannya.

Menghafal Al Qurán sejak Usia dini memang banyak dilakukan oleh anak-anak muslim terdahulu, namun kiranya akan lebih baik menunda menghafal 30 juz di usia kanak-kanak, karena meskipun anak tersebut cerdas daya pikirnya untuk memahami ayat-ayat Alloh dibandingkan mreka yang sudah dewasa tidak semua konten dalam Al Qurán disajikan dan cocok untuk anak-anak kecil, dan sebaiknya jika anak-anak memang mau mengunakan metode ini mulailah dari juz ama atau surat-surat makiah yang kebanyakan ayat-ayatnya membahas tentang penguatan Aqidah, dan kisah-kisah yang meneguhan iman dan membangun ahlaq dan membuat kita jauh dari kekufuran dan bisikan syaitan di lingkungan thagut.

Anak-anak yang belum baligh belum dan kurang cocok untuk siap menerima surat-surat madaniah yang didalamnya ada banyak sekali konten-konten hukum-hukum Alloh, undang-undang islam, tata cara ibadah, larangan-larangan Alloh yang sebagiannya kurang sesuai untuk dipahami oleh anak-anak kecil yang belum masuk dalam katagori mukalaf belum lagi ada beberapa ayat yang memang merupakan seruan dengan konten dewasa, dan memang mereka yang belum baligh tidak di bebankan (Wajib) perintah-perintah Alloh tersebut.   

Target pokok dari penggunaan metode ini adalah didapatkanya hafalan Al Qurán yang tidak terbatas pada lafadz Arabnya saja namun sang penghafal Al Qurán juga dapat memahami makna dalam ayat talah dihafalkan, saya menyadari ada kekurangan memang dalam Rumah mushaf Modul ini akan senantiasa diperbaiki untuk mendapatkan metode terbaik dalam mencetak generasi hafidz Qurán yang sesuai dengan tuntutan Alloh dalam surat Al Baraáh ayat 112, yang siap menjual jiwa dan raga serta sarana hidupnya demi jihad dijalan Alloh. Jika mendapati pertanyaan, kritik dan saran seputar mudul ini silahkan kirimkan pertanyaan itu pada email anaksholieh@gmail.com setiap kesan yang anda kirimkan bagi saya insyAlloh akan menjadi amal jariah bagi kita semua,

klik untuk Selanjutnya judul selanjutnya :)
2. Iddad (Persiapan)



Komentar

Postingan Populer