1. Dasar Pertama Metode ini
Berawal Dari Sebuah Niat
Segala puji hanya bagi Allah,
Padanya kami memuji, dan padanya kami berlindung , serta padanya kami memohon
ampun, dan kami berlindung dari setiap kekotoran diri kami dan dari setiap
keburukan amal kami. Barang
siapa yang diberikan hidayah maka tak ada satupun mampu menyesatkanya dan
barang siapa disesatkan olehnya tiada satupun petunjuk baginya. Sesungguhnya
sebaik-baiknya perkata`an adalah kitab Allah dan sebaik-baiknya petunjuk adalah
petunjuk Rassululloh sholalalohu alaihi wassalam, seburuk-buruknya perkata`an
adalah yang mengada-ngada (dalam dien) dan setiap yang mengada-ngada (dalam
dien) adalah bid`ah serta setiap bid`ah adalah sesat .
Sudah sering mendengar
kalimat “kami hidup untuk mencari keridhoan Alloh”? jika sudah dalam mengawali tulisan
ini saya coba untuk menyemarakan lagi kalimat ini, dan berharap dengan semakin
terniangnyanya kalimat ini, maka dari sana dapat terukir kesungguhan dihati,
bahwasanya Sungguh kita didunia ini benar-benar mencari ridho Alloh.”Amin.
Setiap ibadah memiliki dua syarat untuk dapat diterima sebagai
ibadah yang Alloh ridhoi, dan dua syarat utama itu pertama ialah Ikhlas serta
kedua ialah tidak menyelisihi tuntunan Al Qurán dan As Sunnah, ketika salah
satu ibadah sebut saja Shalat subuh kemudian dilaksanakan dengan penuh ikhlas
namun diringi dengan pelaksanaán 8 rakaat maka ibadah shalat subuh itu tertolak
karena menyelisihi sunnah, Meskipun pelakunya mengaku sangat ikhlas dalam
melaksankan shalat subuh tersebut amalan ibadah itu tetap tertolak, dan
begitupula sama halnya akan tertolak seorang yang melaksanakan shalat
subuh 2 rakaat sesuai dengan tuntunan Al Qurán dan As Sunnah namun tidak
diringi dengan keikhlasan, Ibadahnya juga akan tertolak karena ia mengerjakan
tanpa ada keikhlaslasan atau terpaksa seperti halnya shalat yang dilaksanakan
orang-orang munafik, karena sekali lagi syarat diterima suatu ibadah adalah
Ikhlas dan Tidak menyelisihi Sunnah.
Menghafal Al Qurán adalah suatu ibadah
Mandhub, ketika seseorang menghafal Al Qurán ia akan mendapat ganjaran disisi
Alloh dan kecintaan disisi Rasululloh Shalallohuálaihi wasalam. Diantara Tujuan
Penghafalan Al Qurán dimaksudkan untuk penjagaan terhadap firman Alloh taála
agar tetap terjaga dan jauh dari interfrensi perkataan manusia, maka dari itu
ketika Nabi Muhamad Shalallohu’Alaihi wasalam menerima wahyu para sahabat
segera di perintahkan untuk menghafal firman tersebut atau segera menuliskannya
firman Alloh yang baru saja turun agar tetap terjaga hingga hari akhir.
Al Qurán amatlah sangat istimewa karena ia
adalah satu-satunya kitab suci yang Alloh jaga keotentikanya dan Alloh mudahkan
dalam penjagaanya hingga menjelang hari kiamat. Kalam Alloh yang satu ini Alloh susun sedemikian rupa hingga dapat
dihafalkan seluruh isinya oleh setiap hambanya yang mau menghafalkanya, entah
ia buta, tidak bisa membaca, tidak mengerti bahasa Arab, Muslim, Shalih,
Kaafir, Munafik, Dzalim, ataupun orang Musyrik sekalipun. Karena Al Qurán Alloh
biarkan melekat pada lisan siapapun yang Alloh kehendaki, agar siapa saja dapat
mendengar firmannya, dan sebagai hujah dihari pembalasan nanti siapa yang
mengikuti petunjuk Alloh setelah datangnya dan siapa saja yang justru malah
ingkar padalah ayat-ayat Alloh yang pernah ia dengar dalam hidupnya, Alloh
taala berfirman:
وَسِيقَ
الَّذِينَ كَفَرُوا إِلَى جَهَنَّمَ زُمَرًا حَتَّى إِذَا جَاءُوهَا فُتِحَتْ أَبْوَابُهَا
وَقَالَ لَهُمْ خَزَنَتُهَا أَلَمْ يَأْتِكُمْ رُسُلٌ مِنْكُمْ يَتْلُونَ عَلَيْكُمْ
آيَاتِ رَبِّكُمْ وَيُنْذِرُونَكُمْ لِقَاءَ يَوْمِكُمْ هَذَا قَالُوا بَلَى وَلَكِنْ
حَقَّتْ كَلِمَةُ الْعَذَابِ عَلَى الْكَافِرِينَ (٧١)
Orang-orang
ingkar dibawa ke neraka Jahanam berombong-rombongan. Sehingga apabila mereka
sampai ke neraka itu dibukakanlah pintu-pintunya dan berkatalah kepada mereka
penjaga-penjaganya: “Apakah belum pernah datang kepadamu utusan-utusan di
antaramu yang membacakan kepadamu ayat-ayat Pengaturmu (Alloh) dan
memperingatkan kepadamu akan pertemuan dengan hari ini?” Mereka menjawab: “Benar
(telah datang)”. Tetapi telah pasti berlaku ketetapan azab terhadap orang-orang
yang ingkar.
(QS.
Az Zumar [39:71])
Ayat-ayat Alloh begitu mudahnya Alloh tebarkan, hingga bisa dihafal dan
didengar oleh siapapun, ia adalah salah satu dari dua tanda keberadaan Alloh,
yaitu ayat Qauliah setelah ayat Kauniahnya yang juga ia tebarkan diseluruh Alam
semesta, agar semua benar-benar merasakan eksistensi Alloh meskipun tak pernah
berjumpa dengannya secara dzahir, Ia perlihatkan keagungan Penciptaannya dan
Kemurahannya pada setiap doa hambanya agar semua menyadari dan merasakan
keberadaan Alloh, serta bersama firman Alloh yang satu ini seluruh hambanya
diseru untuk tunduk patuh pada petunjuk Alloh yang akan mengerluarkanya dari
kegelapan menuju cahaya. Alloh Taálah berfirman:
اللَّهُ وَلِيُّ الَّذِينَ آمَنُوا يُخْرِجُهُمْ
مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ وَالَّذِينَ كَفَرُوا أَوْلِيَاؤُهُمُ
الطَّاغُوتُ يُخْرِجُونَهُمْ مِنَ النُّورِ إِلَى الظُّلُمَاتِ أُولَئِكَ
أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ
Allah pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka
dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman). dan orang-orang yang kafir,
pelindung-pelindungnya ialah Thagut, yang mengeluarkan mereka dari cahaya
kepada kegelapan (kekafiran). Mereka itu adalah penghuni neraka; mereka kekal
di dalamnya.
(Qs. Al Baqarah [2:227])
Al-Qurán adalah sebaik-baiknya petunjuk menuju
cahaya, dan Al Qurán benar-benar menakjubkan, ia adalah bukti keagungan Alloh,
setiap orang bisa menghafalnya, ia benar-benar terjaga dan selalu Alloh jaga,
agar kelak semua orang bisa tetap membacanya, bisa tetap mencarinya dan menuju
keridhoan Alloh bersamanya, sungguh benar janji Alloh dalam firmannya:
إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ
لَحَافِظُونَ
Sesungguhnya
Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan Sesungguhnya Kami benar-benar
memeliharanya.
(Qs. Al Hijr [15:9])
وَلَقَدْ يَسَّرْنَا الْقُرْآنَ لِلذِّكْرِ فَهَلْ مِنْ
مُدَّكِرٍ
|
Dan Sesungguhnya Telah
kami mudahkan Al-Quran untuk dipelajari, Maka Adakah orang
yang mengambil pelajaran? (Qs. Al Qamar, [54 :17])
Dan Sesungguhnya Telah
kami mudahkan Al Quran untuk dipelajari, Maka Adakah orang
yang mengambil pelajaran? (Qs. Al Qamar, [54 :22])
Dan Sesungguhnya Telah
kami mudahkan Al Quran untuk dipelajari, Maka Adakah orang
yang mengambil pelajaran? (Qs. Al Qamar, [54 :32])
kata lidzikri (لذِّكْر) dalam pada Surat Al Qamar, mengandung makna, diingat,
dikenang, dipelajari, direnungkan sebagai mana kita biasa menyebut istilah
untuk mengingat Alloh dengan kata dzikir atau dzikurulloh, yang juga dapat
bermaksud Mengingat Alloh, Merenungi keanguangan, kesucian, dan kemulaian,
keesaan Alloh, dari sana kita bisa mengambil pemahaman bahwa Al Qurán memang
mudah untuk dihafalkan, dan dalam realitanyapun sejak dahulu hingga sekarang Al
Qurán memang selalu mudah untuk dihafalkan, hanya saja maukan kita percaya dan
menghafalnya?
وَلَقَدْ يَسَّرْنَا الْقُرْآنَ لِلذِّكْرِ فَهَلْ
مِنْ مُدَّكِرٍ
Dan Sesungguhnya Telah
kami mudahkan Al Quran untuk diingat, Maka Adakah orang yang
mau mengingatnya? (Qs. Al Qamar, [54
:40])
Dewasa ini Para penghafal Al Qurán sudah semakin banyak dan metode
mengahafal Al Qurán semakin beragam dan di indonesia sendiri sekolah-sekolah
khusus bagi para pengahafal Al Qurán semakin menjamur diberbagai penjuru tanah
air, namun sedikit disayangkan tidak semua lembaga penghafalan Al Qurán
menghasilkan para Hafidz dan Hafidzoh yang memang benar-benar menjaga Al Qurán
sebagai mana mestinya, kebanyakannya menghafal Al Qurán hanya sebatas pada
lafadz arabnya tanpa tahu apa makna dari hafalan yang mereka jaga, mereka
ibaratnya seperti para penjaga peta harta karun yang hafal lokasi harta karun
yang tak ada habisnya namun mereka enggan mengambil harta tersebut karena tidak
tahu apa makna dari simbol-simbol hijaiyah yang mereka hafalkan, mereka mungkin
membaca dan menghafalnya, mereka mungkin tahu bagaimana persisnya bentuk dan
posisi simbol-simbol huruf hijiah dalam naskah Al Qurán , tapi mereka tidak
tahu pasti apa yang mereka benar-benar hafalkan selama ini.
Fenomena ini sangat menarik dan sangat disayangkan, andai mereka
memahami betul apa yang dihafalkan pastilah akan sangat indah hidup para
penghal Al Qurán tersebut dan akan sangat diberkahilah orang-orang yang
hidup disekitarnya, karena mereka besama dengan para penjaga Undang-undang
Alloh, dan hidup bersama penjaga firman Alloh adalah sebaik-baiknya hidup,
karena adakah hidup yang lebih diberkahi selain hidup bersama seorang yang
menjaga Syariat, menjaga jalan menuju kebahagian dunia dan akhirat?
Fenomena ini seringkali terjadi karena :
1. Para penghafal Al
Qurán tersebut tidak merenungi apa yang akan mereka hafalkan sehingga
saat ada satu ayat didepannya ia hanya sebatas membacanya berulang-ulang hingga
akhirnya ia hafal Ayat tersebut, kemudian ia merasa puas ayat Alloh yang
melekat dilidahnya, namun pada hakikatnya apa yang selama ini ia bacakan
hanyalah suara dengan intonasi indah yang tak jelas maknanya, yang hanya nyaman
di ucapkan dan memanjakan telinga namun membuat hati hampa karena karena ada
yang hilang, dan ia tak memahami apa maksud dari suara indah tersebut.
2. Para penghafal Al Qurán mengunakan mushaf
dengan terjemahan Al Qurán yang menyimpang dari makna sebenaranya hingga
akhirnya ia salah memaknai apa yang ia hafalkan, dan kelak yang ia jaga-pun
bukanlah sesuatu yang otentik melainkan sesuatu yang sudah dipalsukan, dalam
hal ini yang paling bertanggung jawab adalah orang-orang yang memalingkan
keotentikan Al Qurán mereka wala pada bathilnya Thagut dan mulai Bara pada Haq
Alloh untuk diterima seluruh kebenarannya.
3. Para penghafal Al Qurán
Punya motivasi selain mencari ridho Alloh dalam Hafalanya, mungkin demi menjadi
juara lomba baca Al Qurán , Ustad dengan gelar Al hafidz, ingin disebut Alim,
Punya motivasi memalingkan kaum Muslimin dari Ajaran Al Qurán yang sebenarnya,
dan niat-niat lain yang intinya memanfaatkan Al Qurán untuk penunjang
perjuangan selain dijalan Alloh.
Buku ini sendiri saya susun demi meluruskan
kembali hakikat Hafidz dan menghafal Al Qurán yang sebenarnya, dengan judul
Rumah Mushaf, saya berharap kedepannya akan terbentuk generasi-generasi Hafidz
dan Hafidzoh yang memang menghafal Al Qurán demi menjaga apa yang ada
didalamnya dan bukan hanya menghafal simbol-simbol hijaiah dalam Al Qurán
sehingga menghasilkan generasi penghafal yang prematur atau belum sempurna
hafalannya namun sudah mengaku menguasai Al Qurán kemudian sadar atau tanpa
disadari ia sudah memalingkan dirinya dan orang lain dari kebenaran yang
semestinya.
Seorang hafidz dan hafidzoh bukanlah
sekedar penghafal lafadz Al Qurán melainkan dialah seorang Penjaga Hukum Alloh,
ia tidak akan memanfaatkan Al Qurán untuk mendongkarak citra dalam diri atau
lembaga dan orang sekitar. Ia
menghafal Al Qurán dan menggunakan Hafalannya untuk menjaga Al Qurán agar
dirinya dan orang-orang sekitarnya menegakan Syariat yang ada didalamnya, atau
minimal menyebarkan Syiar-syiar Alloh yang bertebaran disetiap ayatnya, seorang
Hafidz bukanlah Tukang pamer atau Para Pemilik pameran Al Qurán , ia tidak
menjual diri untuk thagut, melainkan dialah yang menjual dirinya pada Alloh
demi menegakan dan memperjuangkan hukum-hukum Alloh.
إِنَّ اللَّهَ اشْتَرَى
مِنَ الْمُؤْمِنِينَ أَنْفُسَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ بِأَنَّ لَهُمُ الْجَنَّةَ
يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَيَقْتُلُونَ وَيُقْتَلُونَ وَعْدًا عَلَيْهِ
حَقًّا فِي التَّوْرَاةِ وَالإنْجِيلِ وَالْقُرْآنِ وَمَنْ أَوْفَى بِعَهْدِهِ
مِنَ اللَّهِ فَاسْتَبْشِرُوا بِبَيْعِكُمُ الَّذِي بَايَعْتُمْ بِهِ وَذَلِكَ
هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ (١١١)التَّائِبُونَ الْعَابِدُونَ الْحَامِدُونَ
السَّائِحُونَ الرَّاكِعُونَ السَّاجِدُونَ الآمِرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَالنَّاهُونَ
عَنِ الْمُنْكَرِ وَالْحَافِظُونَ لِحُدُودِ اللَّهِ وَبَشِّرِ
الْمُؤْمِنِينَ (١١٢)
111. Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri
dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. mereka berperang pada
jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh (dijalan Alloh). (Itu telah
menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Quran. dan
siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka
bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan Itulah
kemenangan yang besar.
112. mereka itu adalah
orang-orang yang bertaubat, yang beribadat, yang memuji, yang mengebara (untuk
mencari ilmu) , yang ruku', yang sujud, yang menyuruh berbuat ma'ruf dan
mencegah berbuat Munkar dan yang Menjaga hukum-hukum Allah. dan gembirakanlah orang-orang mukmin itu.
(Qs. Al Baraáh [9:111-112])
Hafidz dan hafidzoh bukanlah para penghafal
huruf simbol hijaiah dalam Al Qurán, atau para pengingat susuan Kata-kata dalam
Al Qurán, disebut hafidz dalam ayat diatas karena memang dirinya menjaga
tegaknya hukum Alloh dan menyeru pada apa-apa yang Alloh perintahkan dalam Al
Qurán dan mencegah orang-orang disekitarnya untuk melakukan apa yang Alloh
murkai untuk dilakukan, merekalah Aulia Alloh yang bara pada Segala bentuk
Thagut dan musuh Alloh yang menghalangi tegaknya hukum Alloh.
Fenomena miris yang terjadi pada para
kebanyakan penghafal Al Quran hari telah Rasulullohshalallohu’alaihiwasalam
peringatkan dalam sebuah riwayat:
“Akan keluar suatu kaum dari umatku, mereka membaca Al Quran, bacaan kamu dibandingkan dengan bacaan mereka tidak ada apa-apanya, demikian pula shalat dan puasa kamu dibandingkan dengan shalat dan puasa mereka tidak ada apa-apanya. Mereka membaca Al quran dan mengiranya sebagai pembela mereka, padahal ia adalah hujjah yang menghancurkan alasan mereka. Shalat mereka tidak sampai ke tenggorokan, mereka lepas dari Islam sebagaimana melesatnya anak panah dari buruannya.” (HR. Abu Dawud)
“Sesungguhnya yang paling aku khawatirkan atas kamu adalah seseorang yang telah membaca (menghafal) al-Qur’ân, sehingga ketika telah tampak kebagusannya terhadap al-Qur’ân dan dia menjadi pembela Islam, dia terlepas dari al-Qur’ân, membuangnya di belakang punggungnya, dan menyerang tetangganya dengan pedang dan menuduhnya musyrik”. Aku (Hudzaifah) bertanya, “Wahai nabi Allâh, siapakah yang lebih pantas disebut musyrik, penuduh atau yang dituduh?”. Beliau menjawab, “Penuduhnya”.
(HR. Bukhâri)
Rasulullah saw. bersabda: Sesungguhnya diantara ummatku ada orang-orang yang membaca Al Quran tapi tidak melampaui tenggorokan mereka. Mereka membunuh orang Islam (membiarkan perang, menghalangi jihad) dan membiarkan penyembah berhala (Thagut). Mereka keluar dari Islam secepat anak panah melesat dari busurnya. Sungguh, jika aku mendapati mereka, pasti aku akan bunuh mereka seperti terbunuhnya kaum Aad. (Shahih Muslim No.1762)
Hadis riwayat Ali ra., ia berkata:
Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda: Di akhir zaman akan muncul kaum yang muda usia dan lemah akal (kekanakan). Mereka berbicara dengan pembicaraan yang seolah-olah berasal dari manusia yang terbaik. Mereka membaca Alquran, tetapi tidak melampaui tenggorokan mereka. Mereka keluar dari Dien, secepat anak panah meluncur dari busur. Apabila kalian bertemu dengan mereka, maka bunuhlah mereka, karena membunuh mereka berpahala di sisi Allah pada hari kiamat.
Rasulullah saw. bersabda: Sesungguhnya diantara ummatku ada orang-orang yang membaca Al Quran tapi tidak melampaui tenggorokan mereka. Mereka membunuh orang Islam (membiarkan perang, menghalangi jihad) dan membiarkan penyembah berhala (Thagut). Mereka keluar dari Islam secepat anak panah melesat dari busurnya. Sungguh, jika aku mendapati mereka, pasti aku akan bunuh mereka seperti terbunuhnya kaum Aad. (Shahih Muslim No.1762)
Hadis riwayat Ali ra., ia berkata:
Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda: Di akhir zaman akan muncul kaum yang muda usia dan lemah akal (kekanakan). Mereka berbicara dengan pembicaraan yang seolah-olah berasal dari manusia yang terbaik. Mereka membaca Alquran, tetapi tidak melampaui tenggorokan mereka. Mereka keluar dari Dien, secepat anak panah meluncur dari busur. Apabila kalian bertemu dengan mereka, maka bunuhlah mereka, karena membunuh mereka berpahala di sisi Allah pada hari kiamat.
(Shahih Muslim No.1771)
يحسنون القيل ويسيئون الفعل يدعون إلى كتاب الله
وليسوا منه في شيء
“Mereka baik dalam berkata tapi jelek dalam berbuat, mengajak
untuk mengamalkan kitab Allah padahal mereka tidak menjalankannya sedikitpun.”
(HR. Al-Hakim)
Hari ini mulai banyak bermunculan para penghafal Al Qurán yang
dihawatikan Nabi Shalllohuálaihiwasalam, mereka disebut menghafal Al Qurán
tetapi membunuh sesama muslim, karena meskipun mereka tahu akan wajibnya
menegakan seluruh perintah Alloh mereka malah membiarkan para mujahidin
terbunuh, bukannya menghalangi musuh Alloh untuk menghancurkan islam justru
dirinya ikut menyebut pejuang Alloh sebagi teroris, atau ekstrimis, bukannya ia
menegakan perintah Alloh dalam Al Qurán Justru malah dirinya menghalangi hamba
Alloh mengakan syriat Alloh.
Mereka bertengger di televisi, radio, dan mimbar tablig akbar
sambil membaca Ayat-ayat Alloh namun disisi lain mereka menghalangi orang-orang
untuk mengenal Alloh lebih dekat, Membatasi petunjuk menuju perjuangan hidup
dijalan Alloh karena takut pada thagut, dan memalingkan Ayat Alloh dari
keotentikanya, mereka seperti pemilik pameran, punya banyak koleksi berharga
namun tak mengijinkan orang lain untuk menyentuh koleksinya dan tidak mau
memberi tahu dari mana ia mendapatkan koleksi barang-barang indahnya, mereka
ingin terlihat indah dengan koleksi keindahannya, mereka tidak sadar semuanya
adalah milik Alloh dan layak untuk dibagikan kepada sesama hamba Alloh, serta
mereka sedang lupa semua titipan Alloh akan ada pertanggung jawabannya.
Al-Quran dihafalkan lafadz-lafadznya
untuk dijaga keaslianya, agar orang-orang dapat menegakan syariat sesuai dengan
apa yang Alloh perintahkan dalam Al Qurán dan As Sunnah, tidaklah semua itu
dihafal melainkan demi penjagaan, penyebaran dan penegakan syariat islam
berdasarkan hukum yang Alloh rdhoi, Ia dibaca dengan tartil agar para
pendengarnya khusyuk menghayati firman Alloh, dan Al-Qurán sebenarnya dilarang
untuk dibaca melainkan untuk mencari kebenaran dan menebarkan-kebenaran apalagi
untuk menyesatkan, ia adalah pembawa perdamain dan sumber paling mendasar dari
seluruh perintah Alloh dan petunjuk utama dalam mencari keridhoan Alloh di
dunia demi akhirat.
Saya tergerak untuk mendirikan Rumah Mushaf
dan menuliskan buku panduang Rumah mushaf ini, karena melihat fenomena hafidz
yang salah oreientasi dalam menghafal, yang terkecoh oleh para penerjemah Al
Qurán yang seringkali memalingkan firman-firman Alloh dalam Al Qurán, yang
mempersulit penjagaan Al Qurán dan yang menghalangi orang-orang untuk menegakan
firman Alloh dalam Al Qurán secara kaffah. Seluruh niat penghafalan Al Qurán
adalah demi menjaga Hukum Alloh, bukan untuk pamer atau apapun selain demi
penegakan Syariat Alloh tidak ada surga atau janji Alloh pada seorang hafidz
yang hanya suka bermain lafadz tanpa menegakanya.
Dalam buku ini saya mencoba menyusun dan menyempurnakan metode
menghafal Al Qurán dari berbagai buku dan literatur tahfidzulQurán, semuanya
disusun semudah mungkin untuk dapat diaplikaskan oleh semua usia, namun sesuai
Qaidah sempurnanya menghafal Al Qurán sebaiknya dilakukan oleh seorang
yang sudah baligh, walau anak-anak mungkin akan lebih mudah menghafalkan
ayat-ayat dalam Al Qurán sejatinya mereka hanya menghafal lafadz-lafadnya dan
kebanyakatan tidak mengatahui maknanya atau tafsirannya.
Menghafal Al Qurán sejak Usia dini memang
banyak dilakukan oleh anak-anak muslim terdahulu, namun kiranya akan lebih baik
menunda menghafal 30 juz di usia kanak-kanak, karena meskipun anak tersebut
cerdas daya pikirnya untuk memahami ayat-ayat Alloh dibandingkan mreka yang
sudah dewasa tidak semua konten dalam Al Qurán disajikan dan cocok untuk
anak-anak kecil, dan sebaiknya jika anak-anak memang mau mengunakan metode ini
mulailah dari juz ama atau surat-surat makiah yang kebanyakan ayat-ayatnya
membahas tentang penguatan Aqidah, dan kisah-kisah yang meneguhan iman dan
membangun ahlaq dan membuat kita jauh dari kekufuran dan bisikan syaitan di
lingkungan thagut.
Anak-anak yang belum baligh belum dan kurang cocok
untuk siap menerima surat-surat madaniah yang didalamnya ada banyak sekali
konten-konten hukum-hukum Alloh, undang-undang islam, tata cara ibadah,
larangan-larangan Alloh yang sebagiannya kurang sesuai untuk dipahami oleh
anak-anak kecil yang belum masuk dalam katagori mukalaf belum lagi ada beberapa
ayat yang memang merupakan seruan dengan konten dewasa, dan memang mereka yang
belum baligh tidak di bebankan (Wajib) perintah-perintah Alloh
tersebut.
Target pokok dari penggunaan metode ini
adalah didapatkanya hafalan Al Qurán yang tidak terbatas pada lafadz Arabnya
saja namun sang penghafal Al Qurán juga dapat memahami makna dalam ayat talah dihafalkan,
saya menyadari ada kekurangan memang dalam Rumah mushaf Modul ini akan
senantiasa diperbaiki untuk mendapatkan metode terbaik dalam mencetak generasi
hafidz Qurán yang sesuai dengan tuntutan Alloh dalam surat Al Baraáh ayat 112,
yang siap menjual jiwa dan raga serta sarana hidupnya demi jihad dijalan Alloh.
Jika mendapati
pertanyaan, kritik dan saran seputar mudul ini silahkan kirimkan pertanyaan itu
pada email anaksholieh@gmail.com setiap kesan yang anda kirimkan bagi saya insyAlloh akan menjadi
amal jariah bagi kita semua,


Komentar
Posting Komentar